Hai cinta pertamaku. Bagaimana kabarmu sekarang, baik-baik saja kan? Gimana juga kuliahmu? Susah nggak kuliah di Hubungan Internasional? Gimana Semarang? Asikkah? Banyak sekali pertanyaan yang masih aku tanyakan, tapi sayangnya semuanya juga tidak akan tersampaikan, karena cinta yang kumiliki ini bertepuk sebelah tangan.
Cinta pertamaku, aku masih ingat saat pertama kali aku mengenalmu. Dimasa putih abu-abu itu, saat dimana aku menjadi wartawan majalah sekolah.
Kau tahu, aku bukanlah tipe orang yang suka berada dilingkungan kakak kelas, senior, kakak tingkat, atau apalah sejenis orang-orang yang berada diatas tingkatanku. Rasanya seperti aku masuk ke kandang singa. Kenapa aku berpikiran seperti itu? Itu karena aku merasa tatapan mereka tajam menyelidik, mengamati setiap pergerakan orang-orang asing yang memasuki wilayahnya. Yah, kebetulan kelas 1,2, dan 3 letaknya terpisah. Itulah semua yang kupikirkan.
Pernah aku mencetak sebuah foto dirimu yang kudapat melalui kamera sahabatku. Saat itu “BUBLES” atau “Bulan Bahasa” dimana kau dan teman-temanmu menampilkan tarian tradisional “Jaran Kepang” dengan iringan musik dari ‘7 Icon’. Benar-benar lucu dan tak terduga.
Aku juga ingat saat-saat aku mengirimimu pesan pendek yang isinya, ehm,, kurasa memalukan.. saaannggggaaattt memalukan hingga aku pikir yang menulis semua itu bukanlah aku.
Di pesan-pesan singkat itu aku dengan leluasa berbincang denganmu, tapi lain halnya dengan kenyataan. Aku tak mampu menyapamu, bahkan saat berpapasan aku malah menundukkan kepala. Kau tahu kenapa? Itu karena aku malu. Malu akan pesan singkat yang kukirimkan padamu hingga sepertinya aku tak kuasa mengingat apa saja pesan yang kukirim.
Tapi ada saat dimana sangat membuatku terkejut hingga degupan jantungku menjadi cepat tak beraturan. Saat dimana kelas IPS akan melakukan study tour. Ketika aku masuk melewati gerbang bersama dua sahabatku, dari belakang aku mendengar “Siapa ya, yang mengirim SMS semalam”. Aku yakin dan sangat yakin itu suaramu, dan aku yakin kata-kata itu kau tujukan padaku karena saat itu hanya aku, dua sahabatku, kau, dan beberapa temanmu. Dan lagi, semalam aku baru saja mengirim pesan “Semangat Mas^^ Selamat bersenang-senang”. Aku hanya terus melanjutkan langkahku sambil menahan degupan jantungku. Sementara kedua sahabatku, mereka hanya cekikikan menahan tawa.
Akhirnya, aku berpikir hanya sebatas dekat di-SMS saja tidak apalah, yang penting aku mengenalnya dan dekat dengannya.
Tapi semua itu berubah ketika aku naik kelas 2. Aku berada dikelas yang dulu kau gunakan. Kelas IPS 2. Kita sama-sama IPS 2 kan? Dan disinilah semua rasa sakit itu muncul. Keinginan untuk mengubur rasa suka padamu itu hadir ketika seorang cewek dengan leluasanya mengatakan bahwa ia menyukaimu, memang hanya ada didalam kelas. Tapi sebelum ia mengatakannya, ia tahu kalau aku menyukaimu. Jadi kenapa ia juga mengatakannya?
Aku bukanlah tipe orang yang mau merusak sebuah ikatan, walaupun itu hanya sebatas teman, untuk mendapatkan ikatan yang belum tentu bisa aku dapatkan. Lagi pula dia lebih dekat denganmu, bahkan didunia nyata. Jadi kuputuskan untuk membiarkan cewek itu mempertahankan perasaannya. Dan aku tang akan mundur dari perasaan ini.
Aku bilang memang mundur, tapi aku tidak kuat jika mendengar namamu disebut oleh orang lain, bahkan guru sekalipun. Serasa ada petir yang menyambar yang membuat hati terasa sesak dan panas, dan aku harus menahan itu selama dua tahun.
Selama setahun aku mengosongkan hati, dan setahun berikutnya aku mengalihkan perasaanku pada seseorang yang bahkan aku tak terpikir kenapa aku bisa menyebut itu sebagai rasa suka. Bisa dibilang rasa sukaku padanya hanya pelarian sementara. Jadi, selama 3 tahun SMA hatiku selalu terisi namamu dan tanpa ikatan yang mengikat.
Setelah kelulusan SMA, aku merasa terbebaskan. Dan rasa padamu pun juga kembali. Tapi sayang, kampus kita jauh berbeda. Dan jaraknya pun jauh. Aku juga sudah tidak punya nomormu lagi. Entahlah, apakah perasaan ini akan tetap bertahan atau akan terhapus begitu saja. Hanya Hanya yang tahu jalan kehidupan seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar